Senin, 11 Januari 2016

MAKALAH TENTANG WAHYU ALLAH DAN CARA DITURUNKANNYA




BAB I
PENDAHULUAN
1.     Latar belakang
Kita sebagai masyarakat muslim pasti tahu dengan yang namanya wahyu, terlebih lagi para akademisi yang ada di dalam sebuah naungan lembaga pendidikan islam, tampaknya nama tersebut melekat erat di benak mereka. Namun pengetahuan mengenai apa sesungguhnya atau hakekat dari kata tersebut apabila di pahami secara mendalam.
wahyu merupakan salah satu mukjizat yang diberikan kepada nabi dan rosul. Wahyu ini diturunkan sesuai dengan sesuatu yang akan terjadi pada zaman ini, wahyu diturunkan melalui perantara malaikat jibril,lalu malaikat jibril menyampaikan kepada nabi dan rosul yang kehendaki allah.
Wahyu merupakan mukjizat yang luar biasa di turunkan kepada nabi dan rosul, wahyu dapat di katakan sebagai kata-kata umumnya, menurut Abu Zaid, di karenakan  “ wahyu meliputi semua teks yang menunjuk pada titah Allah kepada manusia”. Jadi Al-Qur’an merupakan bagian atau salah satu dari wahyu. Karena wahyu tidak hanya turun kepada nabi muhammad saja, akan tetapi juga turun kepada Nabi-Nabi sebelum Nabi Muhammad. Di samping itu, dalam konteksnya, wahyu yang turun kepada Nabi Muhammad saja tidak hanya Al-Qur’an, akan tetapi juga berupa hadist, baik yang berupa hadist qudsi maupun hadist nabawi.

2.     Tujuan
a.       mengetahui tentang arti wahyu secara bahasa maupun istilah.
b.      Mengetahui tentang bagaimana wahyu diturunkan kepada malaikat sebelum malaikat menyampaikan kepada nabi atau rosul yang dikehendaki allah.






BAB II
PENGERTIAN WAHYU
A.    Wahyu.

1.      Pengertian wahyu, (bagian pertama)
Kata wahyu menurut para ulama’ mempunyai dua arti, yaitu proses pemberian wahyu dan sesuatu yang di turunkan tersebut. Kata wahyu berasal dari fi’il madhi وحى او اوحىyang berarti pemberian isyarat dengan cepat. Sedangkan menurut Abu Zaid, “makna sentral wahyu adalah pemberian informasi secara rahasia”[1], jadi dengan kata lain wahyu adalah hubungan komunikasi antara dua pihak yang mengandung arti pemberian informasi secara rahasia. Karna berlangsung secara rahasia, maka dalam konsep wahyu antara si pemberi informasi dan penerima informasi memakai kode rahasia. Sebagaimana ayat berikut:
وَأَوْحَيْنَا إِلَى اُمُّ مُوْسَى أَنْ أَرْضِعِيْهِ
Artinya: Dan (ingatlah) ketika kami (ilhamkan) kepada ibu Nabi Musa supaya menyusuinya.[2]
            Wahyu dengan arti bahasa dapat di golongkan sebagai berikut:[3]
a)      Ilham murni pada manusia, seperti informasi kepada ibunya Nabi Musa dalam ayat di atas.
b)      Ilham insting pada hewan, seperti wahyu pada lebah pada surah al- Nahl yang artinya “Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah : “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit ,di pohon-pohon kayu,dan di tempat-tempat yang di bikin manusia “Q.S An –nahl /16:68
c)      Isyarat dengan cepat dengan menggunakan simbol atau sejenisnya ,sebagaimana isyarat  Nabi Zakaria kepada kaumnya seperti yang di ceritakan dalam Al-Qur’an. ,Q.S Maryam/19:11
d)     Bisikan kepada hati manusia seperti dalamayat berikut : “sesungguhnya setan itu membisikan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu ,Q.S .Al An’am/6:121
sedangkan menurut istilah wahyu adalah “pemberitahuan Tuhan kepada Nabi-Nya tentang hukum-hukum Tuhan, berita-berita dan cerita-cerita dengan cara samar tapi meyakinkan kepada Nabi/Rosul yang bersangkutan, bahwa apa yang diterimanya adalah benar-benar dari Allah”.[4]
Wahyu Allah kepada nabi Muhammad tidak hanya Al-Qur’an, namun juga Al-Hadist (sunnah)[5]. Hal ini sebagaimana firman Allah:
وَمَايَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى ، إِنْ هُوَإِلاَّوَحْيُ يُوْ حَى
Artinya: dan tiadalah yang di ucapakannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya, ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diriwayatkan (kepadanya).[6]

Dari ayat di atas, dapat di simpulkan bahwa al-sunnah juga termasuk wahyu, namun al-sunnah tidak bermukjizat. Al-sunnah berfungsi menjelaskan hal-hal yang umum yang ada dalam al-qur’an. Dari penjelasan yang di kemukakan di atas, bahwa wahyu dapat bermakna sebagai masdar (peristiwa atau pekerjaan).
Wahyu yang di turunkan allah kepada Nabi-Nya tentu mempunyai berbagai fungsi. Menurut Muhammad Abduh, sebagaimana yang di kutip oleh Nurkholis, wahyu dapat di bagi dalam dua fungsi:
1.      Fungsi pokok pertama timbul dari keyakinan bahwa jiwa manusia akan terus kekal sesudah mati. Jadi wahyu berfungsi untuk memberikan penjelasan tentang alam ghoib yang penuh dengan rahasia.
2.      Fungsi pokok kedua yaitu mempunyai kaitan erat  dengan sifat dasar manusia sebagai makhluk sosial, yaitu manusia harus hidup secara berkelompok.
Untuk mengatur manusia dengan baik, maka dibutuhkan wahyu yang di bawa Nabi dan Rosul.[7] Dengan demikian wahyu akan menolong manusia untuk mengetahui dan mempercayai kehidupan di akhirat serta menolong akal dalam mengatur masyarakat atas dasar prinsip-prinsip umum yang dibawanya. Di samping itu, fungsi lain dari wahyu adalah menguatkan pendapat dan meluruskan melaui sifat sakral (keramat) dan absolut (mutlak) yang terdapat dalam wahyu. Dengan adanya sifat absolut ini , maka manusia menjadi tunduk kepada wahyu dan menyesuaikan hasil pemikiran yang di capai oleh akal dengan wahyu.

2.      Pengertian wahyu (bagian kedua)
Wahyu secara etimologi (ilmu asal-usul kata) berarti petunjuk yang di berikan dengan cepat. Cepat artinya datang secara langsung ke dalam jiwa tanpa di dahului jalan pikiran dan tidak bisa di ketahui oleh seorangpun. Jika dilihat secara jelas makna-makna wahyu tersbut dapat berarti:
a.       Ilham yang sudah merupakan fitrah bagi manusia, sebagaimana wahyu yang di berikan kepada ibu Nabi  Musa as. yang berbunyi:
وَأَوْحَيْنَاإِلَى أُمِّ مُوْسَى أَنْ أَرْضِعِيْهِ
Artinya: Dan (ingatlah) ketika kami wahyukan (ilhamkan) kepada ibu Nabi Musa supaya menyusuinya. (QS.28:7)
b.      Ilham yang merupakan gharizah/instingk bagi binatang, sebagaimana petunjuk yang di berikan kepada lebah:
وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ آتَّخَذَى مِنَالْجِبَلِ بُيُتًاوَمِنَ الشَّجَروَمِمَّايَعْرُشُوْنَ
Artinya: Dan Tuhanmu mewahyukan (memberi petunjuk) kepada lebah supaya menjadikan gunung-gunung dan pohon-pohon itu sebagai tempat tinggal. (QS.16:68)
c.       Suatu isyarat yang di berikan dengan cepat  melalui tanda dan kode, sebagaimana firman Allah SWT. Kepada Nabi Zakaria:
فَخَرَجَ عَلَى قَوْمِهِ مِنَ الْمُحَرَّابِ فَأَوْحَى إِلَيْهِمْ أَنْ سٌبِّحُوْا بُكْرَةً وَعَشِيًا
Artinya: maka ketika dia keluar dari mihrab untuk menemui kaumnya, Allah memberi wahyu (petunjuk/isyarat) kepada mereka supaya bertasybih di waktu pagi dan petang. (QS.19:11).
d.      Godaan dan hiasan kejahatan yang dilakukan oleh setan pada diri manusia:
وَإِنَّ الشَّيْطَانَ لِيُوْنَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوْكَ
Artinya: Dan sesungguhnya setan-setan itu mewahyukan (membisikkan kejahatan/was-was) kepada kawan-kawan setia mereka. (QS.6:121).
e.       Berupa perintah Allah kepada para malaikat-Nya:
إِذْيُوْحَى رَبُّكَ إِلَى الْمَلَئِكَةَأَنِّيْ مَعَكُمْ
Artinya: Ingatlah ketika Tuhanmu mewahyukan atau memerintahkan kepada para Malaikat bahwa Aku bersamamu. (QS.8:12)
            Jika makna wahyu itu di ambil dari bentuk masdarnya maka wahyu berarti petunjuk Allah yang di berikan kepada seseorang yang dimuliakan-Nya secara cepat, dan tersembunyi. Subhi Sholih menyatakan bahwa wahyu adalah pemberitahuan yang bersifat ghoib, rahasia, dan sangat cepat.
            Dari makna di atas dapat di pahami bahwa wahyu adalah kalam Allah yang diturunkan kepada nabi atau rosul secara rahasia dan sangat cepat.

3.      Pengertian wahyu (bagian ketiga)
Wahyu (al-wahy), secara semantik, berarti “isyarat yang sangat cepat ( termasuk, bisikan dalam hati dan ilham )”. Dalam Al-Qur’an , wahyu digunakan dalam beberapa pengertian , seperti
1.      “isyarat”.[8]
2.      “pemberitahuan secara rahasia”.[9]
3.      “perundingan yang jahat dan bersifat rahasia”.[10]
4.      “ilham yang diberikan kepada binatang”.[11]
5.      “ilham yang diberikan kepada manusia”.[12]
Wahyu secara terminologis adalah pengetahuan yang diperoleh seseorang dan diyakini bahwa pengetahuan itu datang berasal dari Allah , baik melalui perantara [13]suara atau tanpa suara , maupun tanpa perantara. Dengan demikian dapat dipastikan bahwa wahyu tidak sama dengan ilham , kasyaf vision (penglihatan batin) , perasaan dalam jiwa dan sebagainya. Seperti ayat berikut :
وَمَا كَانَ لِبَشَرٍأَنْ يُكَلِّمَهُ آللَّهُ إلاَّوَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَآئِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلُ رَسُولاً فَيُوحِىَ بإِذْنِهِ مَا يَشَآءُ إِنَّهُ عَلِىحَكِيْمٌ
Artinya:“Dan, tiada manusia yang Allah berfirman kepadanya, kecuali dengan wahyu, atau dari belakang tirai, atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat), lalu di wahyukan kepadanya dengan izin-Nya apa yang dia kehendaki. Sesungguhnya dia Maha tinggi lagi Maha bijaksana”.[14]

B.     Cara wahyu Allah diturunkan kepada malaikat dan rosul

a)      Cara wahyu allah diturunkan ( 1 )
Berdasarkan ( QS.As-Syura’,42:51 ) dapat di ketahui bahwa wahyu yang dikaruniakan Allah kepada manusia ada tiga  macam:
1.      Pewahyuan (menurunkan wahyu), pewahyuan cara ini adalah sesuai dengan makna wahyu dalam arti bahasa-isyarat yang cepat.Dalam hal ini wahyu adalah kebenaran yang di sampaikan ke dalam kalbu atau jiwa seseorang. Wahyu dalam artian ini, tidak sama dengan ilham, dan juga berbeda dengan meditasi karena wahyu merupakan kebenaran yang tidak mengandung keraguan.wahyu jenis inilah yang terkait erat dengan nabi. Contoh: wahyu yang diterima nabi ibrohim untuk menyembelih putranya (ismail).
2.      Mendengar suara dari belakan tirai atau hijab.
 pewahyuan cara kedua disampaikan dari belakang tirai, maksudnya kalam allah di sampaikan oleh-Nya kepada seorang nabi dari belakang hijab atau tabir seperti ketika allah memenggil nabi Musa dari belakang sebuah pohon, dan nabi Musa mendengar panggilan allah itu.
3.      Perantara malaikat (jibril)yang membawa wahyu
Pewahyuan cara yang ketiga ini, di sampaikan allah kepada seseorang melalui utusan (malaikat yang mengembang risalah, yakni malaikat jibril) dengan kata-kata yang di ucapakan.
Pemberian wahyu cara ini hanya terbatas bagi para rosul, berbeda dengan bentuk pertama, wahyu bentuk ketiga tidak sekedar konseptual, tetapi sudah di bungkus oleh kata-kata (kalam).

            Jadi ada tiga macam cara penyampaian wahyu allah kepada para nabi/rosul-Nya,di antaranya:
a)      Allah mencampakkan pengetahuan ke dalam jiwa nabi tanpa melalui perantara malaikat.Wahyu jenis ini adalah seperti mimipi nabi ibrohim yang diperintahkan menyembelih putranya (ismail).seperti dalam ayat berikut, yang artinya:
Ibrohim berkata:”wahai anakku! Sungguh, aku melihat dalam mimpiku bahwa aku menyembelihmu. Maka, pikirkanlah bagaimana pendapatmu”.
Ismail menjawab:” hay ayahku! Kerjakanlah apa yang di perintahkan kepadamu, insya allah, kamu akan mendapatiku termasuk dari orang-orang yang sabar”.[15]
b)      Allah memperdengarkan suara dari balik tabir seperti yang di alami nabi Musa As. ketika menerima pengangkatan kenabiannya,dan juga yang di alami nabi Muhammad ketika Isro’-Mi’roj. Sepertidalam ayat berikut, yang artinya:
“Maka, ketika ia (musa) datang ke tempat api itu, ia dipanggil: hai Musa! Sesungguhnya aku inilah Tuhanmu, lepaskanlah kedua tanganmu. Sesungguhnya Kamu berada di lembah yang suci, yakni Thuwa. Dan, aku telah memilihmu, dengarkanlah apa yang diwahyukan (kepadamu)”.[16]
وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوْسَى تَكْلِيْمًا
            Artinya: “Dan, Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung”.[17]
c)      Melalui utusan, yakni malaikat. Dalam hal ini ada dua macam cara, yakni nabi dapat melihat malaikat Jibril, adakalanya dalam bentuk yang asli dan ada kala Jibril menjelma sebagai seorang manusia.dan nabi tidak melihat Jibril sewaktu menerima wahyu, karena beliau hanya mendengar suara seperti suara lebah atau gemerincingnya suara lonceng ketika jibril datang.Sedangkan nabi Muhammad dapat melihat Jibril dalam bentuk asli atau dalam bentuk manusia
Pada hakikatnya ada dua cara wahyu allah di turunkan kepada nabi atau rosul, yakni secara langsung atau tidal langsung(melalui perantara malaikat Jibril).
            Berikut ini adalah jenis wahyu yang di alami nabi Muhammad.
Menurut beberapa riwayat yang telah kami ketahui, wahyu allah yang di sampaikan kepada nabi Muhammad SAW. Ada beberapa macam, di antaranya:
1)      Mimipi yang benar. Jenis wahyu inilah yang pertama kali diterima oleh nabi Muhammad sebelum beliau menerima wahyu Al-Quran. Allah berfirman,
yang artinya:
“Sesungguhnya allah akan membuktikan kepada Rosl-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjdil Haram, insya allah, dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedangkan kamu tidak merasa takut. Maka, allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat”.[18](QS.al-Fath 48:27).
2)      Jibril menghembuskan wahyu kedalam jiwa nabi Muhammad, sedangkan nabi sendiri tidak melihat jibril
3)      Wahyu datang kepada nabi Muhammad bagaikan gemerincingnya suara lonceng atau suara lebah dengan teramat kerasnya. Wahyu seperti ini yang paling dirasakan paling sedikit dan paling berat oleh nabi Muhammad ketika menerimanya.
4)      Mlaikat Jibril datang kepada nabi dalam bentuk yang asli, kemudian malaikat Jibril menyampaikan wahyu allah kepada nabi muhammad.
5)      Allah berfirman kepada nabi Muhammad. Secara langsung tanpa melalui malaikat Jibril pada malam Mi’roj.
6)      Allah menanamkan wahyu kedalam jiwa nabi Muhammad. Secara langsung tanpa melalui perantara malaikat Jibril.

b)      Cara wahyu allah diturunkan (2)
Wahyu yang diturunkan kepada rosul atau nabi secara rahasia dan sangat cepat itu berfariasi. Dari fariasi itu terbagi dalam dua kelompok besar, yaitu:melalui perantara malaikat Jibril dan langsung tanpa perantara.
a.       Melalui perantara Malaikat
Wahyu yang diturunkan dengan cara ini yang terkenal ada dua, yaitu:
1.      Melaikat Jibril menampakkan wajah atau bentuknya yang asli. Cara yang seperti ini terjadi ketika nabi Muhammad menerima wahyu yang pertama (QS.al-Alaq ayat 1-5).
2.      Malaikat Jibril menyamar seperti seorang laki-laki yang berjuba putih.misalnya ketika nabi Muhammad menerima wahyu tentang Iman,Islam, dan tanda-tanda hari kiamat.

b.      Tanpa perantara malaikat (langsung)
1.      Melaui mimpi yang benar, misalnya ketika turun wahyu surah al-Kautsar ayat 1-3.
2.      Allah berbicara langsung.
Misalnya: wahyu allah kepada nabi Musa yang di ceritakan dalam Al-Qur’an,(QS.Al-A’raf ayat 43 dan An-Nisa’ ayat 164).

c)      Cara wahyu allah diturunkan ( 3 )

1.      Cara allah menurunkan wahyu kepada malaikat.
Dalam al-qur’an telah di jelaskan seperti dalam ayat berikut.,yang artinya:Ingatlah ketikaTtuhanmu berfirman kepada para malaikat:” Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang kholifah di muka bumi”. Mereka berkata:”Mengapa Engakau hendak menjadikan (kholifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan pada nya dan menumpahkan darah, padahal kami senatiasa bertasbi dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau!” Tuhan berfirman:” Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.[19]
Dalam al-qur’an juga di jelaskan, yang artinya:
“Bahkan yang di dustakan mereka itu adalah al-qur’an yang Mulia, yang (Tersimpan) dalam lauh Mahfudz”.[20]
            Dari ayat di atas dapat di tarik pemahaman bahwa jibril membawa wahyu dari lauh al-Mahfudz ke bait al-Izzah yang ada di langit dunia dalam keadaan satu paket, kemudia menurunkannya kenabi Muhammad secara beransur-ansur.ini berarti Jibril itu mengambi sendiri dari laut al-Mahfudz.
2.      Cara allah menurunkan wahyu kepada Rosul-Nya
Allah menurunkan wahyu kepada Rosul-Nya melaui 2 cara, yaitu:
                                                        1.            Dengan perantara malaikat Jibril, seperti mimipi yang di alami rosulullah yang akan di utus menjadi nabi. Aisyah r.a berkata, “yang pertama (dari wahyu) kepada rosulullah SAW. Adalah mimipi yang baik di dalam tidur. Beliau tidak pernah bermimpi akan menjadi kenyataan seperti merekahnya cahaya subuh..”[21]
                                                        2.            Tanpa perantara.[22] seperti pada saat Isro’ Mi’roj.

3.      Cara malaikat memberikan wahyu kepada Rosul.
Cara ini ada 4, yaitu:
                                            1.            Malaikat datang dengan membawa wahyu seperti gemerincingan lonceng.[23]hal ini adalah keadaan paling berat yang di alami oleh nabi atau rosul, sebagaimana hadist Nabi.[24]
                                            2.            Malaikat menyerupai laki-laki dan ia datang dalam bentuk manusia, baik ketika nabi sendiri maupun ketika bersama sahabatnya, kemudian ia membacakan wahyu kepada nabi tersbut. Seperti yang di terangkan dalam hadist Shahih Bukhori juz 1 hal 4.
                                            3.            Malaikat memasukkan wahyu itu kedalam hati Nabi, dalam hal ini nabi tidak melihat sesuatu apapun, hanya beliau merasa bahwa itu sudah berada dalam kalbunya.[25]
                                            4.            Malaikat menampakkan dirinya kepada nabi , tidak berupa seorang laki-laki, tetapi benar-benar seperti rupanya yang asli.[26]













BAB III

1.      Kesimpulan
Wahyu adalah perintah allah yang diturunkan kepada nabi atau rosul melalui perantara malaikat Jibril dalam keadaan cepat dan sangat rahasia. kadang juga allah menurunkan w  ahyunya secara langsung tanpa perantara malaikat jibril, seperti pada saat nabi Isro’ Mi’roj.
Begitupun dengan cara allah menurunkan wahyunya kepada nabi atau rosul, kadang allah memerintahkan malaikat Jibril untuk menyamapaikan wahyunya kepada nabi atau rosul kadang juga allah lansung menyampaikan wahyunya kepada nabi atau rosul tersebut, seperti wahyu yang di turunkan kepada nabi Muasa. Dan malaikat Jibril tersebut ketika menyampaikan wahyu dengan cara menyamar, menjelma seperti mausia, dan kadang juga dengan wujud aslinya.






DAFTAR  PUSTAKA
Efendi, Nur dan Fathurrohman, Muhammad. 2014. Study Al-Qur’an. Yogyakarta: Teras.
Anwar, Abu. 1997. Ulumul Qur’an. Jakarta. PT. Logos Wacana Ilmu. 
Izzan, Ahmad. 2011. Ulumul Qur’an. Bandung.: Humaniora.









[1]Zaid, Mafhum al-Nash, h. 30
[2]QS. Al-Qashas/28:7
[3]Khattan, Mabahis fi Ulum, h. 32-33
[4]Munah, “Metodologi Ilmu Tafsir, h. 94
[5]Lihat kesimpulan yang dikemukakan oleh Moh. Shoim, Buku Ajar Ulumul Hadist (Tulungagung: Diktat tidak diterbitkan, 2000), h. 8
[6]QS. Al-Najm/53: 3-4
[7]Nurkholis, Pengantar Study Al-Qur’an (Yogyakarta: Teras, 2008), 18-19
[8]QS. Maryam, 9:8
[9]QS. Al-An’am, 6:112
[10]QS. Al-An’am, :121
[11]QS. An-Nahl, 16:68
[12]QS. Al-Qashas, 28:7

[14]QS. As-Syura’, 42:51
[15]QS. As-Shaffat, 37:102
[16]QS. Thaha, 20:11-1
[17]QS. An-Nisa’, 4:164
[18]QS. Al-Fath 48:27
[19]QS. Al-Baqarah:30            
[20]QS. Al-Buruj/85:21-22
[21]Lihat dalam hadist aslinya dalam Muhammad al-Bukhari, Shahih al-Bukhari Juz 1 (Mauqi’u al-Hadist: Dalam Softwere Maktabah Syamilah, 2005), h. 5.
[22]Ibid, h. 37
[23]Khattan, Mabahits fi Ulum, h. 39
[24]Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari Juz 1, h. 4
[25]Lihat  QS. As-Syu’ara/41:51
[26]Lihat QS. Al-Najm/53:13-14